Islamic Research (Penelitian Islam)   Leave a comment

Pendahuluan

Yang pertama-tama harus dilakukan dalam rangka membangun pemahaman yang lebih terpetakan adalah memahami istilah Islam dengan Islami. Sepintas dua istilah ini sama, akan tetapi bila dicermati maka akan terdapat perbedaan dalam pemaknaannya.

Meminjam definisi dari Kamus Istilah Ilmiah, Islam dimaknai sebagai agama Allah yang disyari’atkan-Nya kepada Nabi Muhammad Saw. Sedangkan kata Islami adalah berpedoman ajaran agama Islam; bersifat, atau bernilai, atau berhubungan dengan Islam.

Dari definisi ini, beda antara Islam dengan Islami dapat dilihat dengan jelas. Islam merujuk kepada nama agama lengkap dengan ajaran dan perangkat yang ada didalamnya. Seluruh aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan disajikan secara tersurat dengan jelas, itulah yang disebut dengan Islam. Sedangkan Islami lebih mengarah kepada nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Sebagai contoh, seorang pedagang non muslim, ketika ia berjualan ia selalu jujur tidak mencampur barang jelek dengan yang baik, tidak pernah berbohong tentang harga, mengambil keuntungan yang tidak terlalu besar, maka orang itu dapat disebut Islami. Ia di sebut Islami karena ia berjualan sebagaimana pernah dipraktekkan oleh Rasulullah Saw. Tapi kendati telah mengikuti prinsip-prinsi Islam orang itu tidak bisa disebut sebagai muslim, karena agamanya bukan Islam.
Untuk lebih jelasnya, barangkali istilah Islami bisa juga disebut ala Islam, atau seperti Islam. Sehingga dengan demikian kita dapat menyematkan kata Islami sebagai embel-embel pada istilah yang kita kenal selama ini, seperti ekonomi menjadi ekonomi Islami, politik Islami, pendidikan Islami, dan lain sebagainya.
Kendati dalam makalah ini penulis menggariskan beda yang cukup tegas antara Islam dengan Islami, bukan berarti kedua istilah ini tidak dapat dipertemukan. Dan di sisi lain tidak sedikit juga para ahli yang memberikan pemaknaan yang sama terhadap dua istilah yang sangat mirip tersebut.
Sebagaimana yang dilakukan oleh Prof. Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, ia tidak memberikan perbedaan yang jelas. Hal itu terlihat dari judul yang ia bubuhkan pada bukunya, yaitu “Metode Riset Islami”. Ia tidak menggunakan istilah “Metode Riset Islam” sebagai judul, karena ia tidak menganggap metode riset Islam berbeda dengan metode riset pada umumnya.
Hal itu dapat dibuktikan dari argumen yang ia bangun, bahwa metode riset Islami adalah “suatu metode yang Islami untuk meneliti gejala-gejala dan masalah-masalah serta mengetahui faktor-faktor penyebabnya, menganalisanya secara teliti, dan membuat satu atau lebih pemecahannya”.

Prinsip Hidup Muslim
Dalam usaha memahami apa yang dimaksud Islamic Research (penelitian Islam), ada beberapa pertanyaan yang perlu diajukan, dengan harapan dapat membantu dalam pemetaan kajiannya. Apakah penelitian Islam adalah penelitian yang langkah-langkah metodologinya Islam?, atau apakah tujuan penelitiannya harus demi kemaslahatan Umat Islam?, atau apakah niat melakukan penelitiannya yang Islami?, atau apakah objek penelitiannya yang harus orang Islam, ajaran Islam, maupun pranata Islam?, atau apakah pelaku penelitiannya harus orang Islam?, atau apakah penikmat hasil penelitian itu harus orang Islam?.
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas maka makna penelitian Islam dapat dipahami.
Hal lain yang perlu diperhatikan untuk membangun pemahaman yang lebih sistematis, maka penulis terlebih dahulu akan membahas apa sesungguhnya yang menjadi tujuan atau prinsip hidup seorang muslim. Dengan memahami prinsip hidup muslim ini kita dapat melihat seseorang bisa benar-benar disebut Islam atau tidak.
Prinsip dasar hidup muslim adalah: “Setiap melakukan sesuatu hendaknya harus bermanfaat, baik bagi kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat”.
Prinsip dasar ini menjadi kerangka berfikir setiap muslim, bahwa apapun yang dilakukan hendaknya memiliki orientasi dunia dan akhirat. Prinsip ini selalu didengungkan karena prinsip inilah yang membedakan eksistensi muslim dengan non muslim.
Hal itu terlihat dari firman Allah:
“Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat)”. (Qs. Al Insaan, 76: 27)

Ayat ini dengan jelas menyebutkan bagaimana penyimpangan kepentingan sangat akrab pada diri non muslim. Hal ini akan sangat berimplikasi luas dalam lapangan dan praktek kehidupan sehari-hari. Orang yang tidak memiliki perhatian dan merasa tidak memiliki kepentingan dengan akhirat cenderung tak terkontrol perilakunya. Prilaku tak terkontrol inilah yang sangat tidak dibenarkan dalam Islam. Berbohong, berdusta, menghalalkan segala cara dalam penelitian telah banyak dipraktekkan oleh peneliti. Tentu saja hal itu jauh dari kualifikasi dapat disebut sebagai penelitian dan peneliti Islam.
Perintah tegas bagi kaum Muslim untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dengan akhirat dapat di baca pada ayat di bawah:
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Qs. Al Jumu’ah, 62: 10)

Rasulullah Saw pun mengingatkan hal serupa melalui sabdanya: “Kejarlah akhiratmu, tapi jangan lupakan bagianmu di dunia”.
Bila prinsip hidup muslim secara keseluruhan telah diketahui, maka dengan mengikuti logika induktif, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa dalam dunia penelitian pun demikian juga adanya. Artinya, bila dalam seluruh aspek kehidupan, seorang muslim harus berorientasi dunia dan akhirat, maka demikian juga dalam bidang penelitian. Sehingga penelitian Islam dapat dirumuskan sebagai penelitian yang dilakukan sejalan dengan maslahat kaum Muslim dan sekaligus menangkal bencana (mudharat) yang mungkin menerpa mereka.

The Meaning Of Islamic Research
Sebagaimana pertanyaan-pertanyaan yang telah dikemukakan di depan, maka untuk melihat apa yang dimaksud dengan penelitian Islam, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, yaitu metodologi penelitian, tujuan penelitian, niat peneliti, objek penelitian, pelaku penelitian, dan penikmat penelitian.

Metodologi Penelitian
Menilik penelitian Islam dari sisi metodologi, sebagaimana Ali Abdul Halim Mahmud, tidak terdapat perbedaan antara penelitian Islam dengan penelitian pada umumnya.
Penelitian secara umum didefinisikan sebagai praktek mengumpulkan, mengklassifikasi, mengolah dan menganalisa data dari suatu fenomena atau kasus untuk mendapatkan hakikat problem atau kasus itu, serta cara-cara penyelesaian yang tepat atas kasus itu. Definisi ini juga disematkan oleh Ali Abdul Halim Mahmud sebagai definisi penelitian Islam.
Pendapatnya itu ia perkuat dengan argumen bahwa sesungguhnya dasar-dasar penelitian ilmiah itu telah ada sejak dulu ki dalam Islam, yang informasinya tertuang di dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Hadits nabi, dan rinciannya di dalam “warisan intelektual” kita (ilmu fiqh secara global).
Bahkan para ulama kita –yang hidup dalam berbagai zaman- pun menegaskan wajibnya mengikuti langkah-langkah penelitian ilmiah dalam meneliti setiap gejala dan masalah. Jadi, penelitian ilmiah –dalam artian seperti yang kita sebutkan di atas- sama sekali bukanlah hasil penemuan barat.
Hasil kesimpulan yang ditetapkan oleh Ali Abdul Halim Mahmud ini perlu dicermati, mengingat ia tidak menunjukkan bukti otentik yang membenarkan pendapatnya, baik berupa dalil Qur’an, hadits, penegasan para ulama, maupun karya ilmiah para ulama yang telah mengikuti metode penelitian secara sistematis.
Disamping itu, dalam tradisi penulisan sejarah Islam kita mengenal satu metode yang sangat valid, yaitu metode sumber langsung. Ulama-ulama terdahulu ketika mereka menulis buku yang berkenaan dengan sejarah dan hukum Islam, mereka tidak mau menggunakan literatur selain al Qur’an, sunnah, dan warisan sejarah yang dapat mereka cek langsung kebenarannya. Metode penulisan seperti itu sangat bertolak belakang dengan metode penulisan sejarah Islam oleh para orientalis. Para orientalis ketika menulis sejarah Islam mereka menghindarkan diri dari teks, dan terpaku pada fenomena yang terjadi pada masyarakat, kemudian mengkaitkannya dengan teori yang mereka rancang sendiri.
Prof. A. Hasymy menegaskan hal tersebut melalui pernyataannya, “Salah satu cara yang ditempuh oleh kaum orientalis untuk maksud-maksud kolonialisme mereka, yaitu dengan memutar-balikkan sejarah Islam, bahkan mencampur-adukkan sejarah Islam dengan Israiliat (dongeng-dongeng yang dimasukkan oleh orang Yahudi ke dalam ajaran dan sejarah Islam).

Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui apakah suatu penelitian bisa dikatakan sebagai penelitian Islam, maka hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan melihat tujuan penelitian itu. Tujuan penelitian Islam terkait erat dengan prinsi hidup muslim. Bila penelitian yang dilakukan tidak memiliki dampak perbaikan bagi kehidupan kaum muslim, baik dunia maupun akhirat, maka penelitian itu tidak layak disebut sebagai penelitian Islam.
Kriteria ini perlu ditegaskan kembali mengingat banyaknya peneliti yang notabene Islam, namun tujuan penelitian mereka malah melemahkan dalil yang ada dalam Qur’an dan Sunnah, ujung-ujungnya malah menciptakan polemik baru dalam masyarakat Islam. Hal ini menjadi bukti nyata beraneka ragamnya motif dibelakang penelitian. Bila dilihat dari tujuannya maka penelitian yang dewasa ini sering dilakukan memiliki beberapa tujuan:
1. Penelitian untuk kepentingan akademis: seperti penelitian demi kenaikan pangkat, skripsi, tesis, disertasi, dan lain sebagainya.
2. Penelitian untuk popularitas.
3. Penelitian untuk mencari uang, termasuk di sini adalah peneliti yang menjadi konsultan yang bertugas menyelesaikan permasalahan pada suatu instansi.
4. Penelitian untuk kepentingan perkembangan ilmu pengetahuan.
Melihat fenomena ini maka harus digariskan secara jelas, apa yang harus menjadi tujuan penelitian Islam. Adapun kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu penelitian sehingga dapat disebut sebagai penelitian Islam, yaitu:
• Penelitian harus menguntungkan kaum Muslim
• Menghindarkan kaum Muslim dari bahaya
• Membantah tuduhan dan fitnah yang ditujukan kepada Islam dan nabinya
• Membersihkan Islam dari sejarah Islam yang diputar-balikkan
• Menyelenggarakan studi Ilmiah yang bisa menjelaskan sikap Islam dalam menanggapi problem masyarakat, serta bagaimana penyelesaiannya
• Melakukan kajian-kajian ilmiah terhadap kitab-kitab klasik demi kemaslahatan masyarakat kini
• Menyiapkan penelitian dalam segenap kehidupan kaum Muslim

Niat Melakukan Penelitian
Niat penelitian Islam ini erat kaitannya dengan prinsip hidup muslim, dan tidak bisa dipisahkan dengan tujuan penelitian Islam. Dengan prinsip hidup muslim, maka niat seseorang melakukan penelitian akan tetap terjaga pada koridor mencari keberkahan dunia dan akhirat. Adapun niat yang harus dimiliki oleh seorang peneliti sehingga penelitian yang ia lakukan dapat disebut sebagai penelitian Islam adalah:
• Ikhlas
• Jujur dan amanah dalam pelaksanaannya
• Bertujuan untuk kebaikan
• Tidak bertentangan dengan Syari’at Islam, seperti:
– Tema-tema yang dipilih dibenarkan oleh Islam
– Tidak terlarang untuk di bahas
– Tujuan yang hendak dicapai untuk mencari ridha Allah
– Sarana yang digunakan legal dan halal
– Menjauhkan diri dari fanatik buta terhadap suatu pendapat
– Sabar menjalani penelitian
– Membersihkan penelitian dari hal-hal yang dapat mempengaruhi netralitas hasil penelitian.

Objek Penelitian
Bila dilihat dari objeknya, garapan penelitian Islam tidak meliputi segala bidang. Lapangan garapan ini perlu ditegaskan untuk memberikan batas yang jelas antara penelitian Islam dengan penelitian pada umumnya. Suatu penelitian bisa dikatakan sebagai penelitian Islam apabila objek penelitiannya sebagai berikut:
• Masyarakat Islam
• Pranata Islam
• Al Qur’an dan Sunnah

Pelaku Penelitian
Suatu penelitian tidak mungkin di sebut penelitian Islam jika dilakukan oleh non Islam. Oleh karenanya dua syarat di bawah ini merupakan syarat mutlah yang harus ada pada penelitian Islam.
• Orang Islam
Disyaratkannya orang Islam sebagai salah satu syarat penelitian Islam memiliki tujuan yang cukup signifikan. Penelitian terhadap Islam yang dilakukan oleh orang non muslim akan sangat sekali dijaga keadilannya terhadap Islam. Di sini termasuk salah satu urgensinya tujuan penelitian Islam yang berorientasi terhadap dunia dan akhirat.
Bila yang melakukan penelitian Islam itu adalah orang Islam, maka setidak-tidaknya ia memiliki rasa takut terhadap agama dan penciptanya untuk melakukan pemutar-balikan fakta yang dapat merugikan kaum Muslim.
• Mengerti Islam
Beragama Islam saja sebenarnya belum cukup, tapi harus disertai dengan pemahaman yang baik tentang Islam. Karena dewasa ini telah banyak peneliti yang beragama Islam, tetapi karena dasar agama kurang baik, maka hasilnya pun malah bertentangan dengan yang diharapkan. Alih-alih menjaga eksistensi Islam, malah menggrogoti Islam dari dalam.
Pemahaman yang baik terhadap Islam lah yang akan sangat membantu bagi seorang peneliti untuk menemukan konsep yang benar terhadap masyarakat Islam. Sehingga dengan semua itu keridhaan Allah akan di raih.

Penikmat Hasil Penelitian
Hal lain yang dapat digunakan untuk menilai apakah suatu penelitian layak di sebut sebagai penelitian Islam adalah di lihat dari siapa yang nantinya akan menikmati hasil penelitian itu.
• Islam
Hasil penelitian Islam hendaknya harus dinikmati oleh orang Islam. Karena merekalah yang menjadi tujuan kebaikan sehingga seorang peneliti bisa mencapai keridhaan dari Allah Swt.

• Non Islam
Dinikmatinya hasil penelitian Islam oleh orang non Islam bukan karena merekalah tujuan penelitian itu dilakukan. Tetapi kegunaan penelitian itu hanya merupakan imbas dari kemaslahatan yang ditujukan kepada kaum muslim.
Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Jadi penelitian yang pada dasarnya demi kemaslahatan umat Islam bisa juga dinikmati oleh penganut agama lain karena umat Islam sendiri tidak bisa membatasi kemaslahatan hasil penelitian yang diperoleh.

Kesimpulan

Penelitian Islam dengan penelitian Islami adalah dua hal yang berbeda. Penelitian Islam ditandai dengan pelaku penelitiannya beragama Islam, hal ini bertujuan untuk menjaga kemaslahatan bagi kaum muslim. Sedangkan penelitian Islami, penelitinya bisa berasal dari bukan orang Islam, yang dia ambil dari Islam hanyalah pedoman-pedoman umum yang ada dalam Islam, atau cara-cara yang ia lakukan pernah dicontohkan dalam agama Islam.
Untuk mengidentifikasi suatu penelitian bisa dikatakan penelitian Islam atau bukan maka ada enam perangkat yang harus diperhatikan, yaitu: metodologi penelitian, tujuan penelitian, niat peneliti, objek penelitian, pelaku penelitian, dan penikmat penelitian.
Bila keenam aspek ini telah terpenuhi dalam suatu penelitian maka penelitian itu layak disebut sebagai penelitian Islam. Jadi penelitian Islam adalah penelitian yang memenuhi enam syarat penelitian di atas.

Posted 24 Juni 2010 by Yayan Z. in Ilmu Penelitian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: