Penelitian Studi Kasus (Case Study) dan Keunikannya   Leave a comment

Definisi Studi Kasus

Studi kasus adalah uraian dan penjelasan komprehensip mengenai berbagai aspek seorang individu, suatu kelompok, suatu organisasi (komunitas), suatu program, atau suatu situasi sosial selama kurun waktu tertentu.[1] Kendati demikian studi kasus harus diusahakan menjadi pendekatan yang memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci (Surachman, 1982: 143).

Penelitian yang senantiasa dilekatkan pada pendekatan kualitatif (qualitative research) ini juga didefinisikan sebagai suatu pendekatan yang bertujuan untuk mempertahankan keutuhan (wholeness) dari obyek, artinya data yang dikumpulkan dalam rangka studi kasus dipelajari sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi, di mana tujuannya adalah untuk memperkembangkan pengetahuan yang mendalam mengenai obyek yang bersangkutan yang berarti bahwa studi kasus harus disifatkan sebagai penelitian yang eksploratif dan deskriptif.
Peneliti studi kasus berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai subjek yang diteliti. Mereka sering menggunakan berbagai metode, seperti wawancara (riwayat hidup), pengamatan, penelaahan dokumen, (hasil) survey, dan data apapun untuk menguraikan suatu kasus secara terinci. Jadi, alih-alih menelaah sejumlah kecil variabel dan memilih suatu sampel besar yang mewakili populasi, peneliti secara seksama dan dengan berbagai cara mengkaji sejumlah besar variabel mengenai suatu kasus khusus. Dengan mempelajari semaksimal mungkin seorang individu, suatu kelompok, atau suatu kejadian, peneliti bertujuan memberikan pandangan yang lengkap dan mendalam mengenai subjek yang diteliti.
Studi kasus dilihat dari dimensinya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu studi Longitudinal dan studi Cross Sectional. Studi longitudinal berupaya mengobservasi obyeknya dalam jangka waktu lama dan terus-menerus. Ia pun hendak menggambarkan suatu kecenderungan atau serangkaian observasi sebelum dan sesudah. Dalam perspektif longitudinal ini, studi kasus dapat bersifat retrospektif dan prospektif. Studi yang bersifat retrospektif (sering juga disebut studi ex post facto) bekerja mundur, mempergunakan data yang telah dicatat, misalnya dalam bentuk dokumen. Sedangkan studi yang bersifat prospektif berupaya melakukan telaah terhadap data yang ada saat ini untuk kemudian dilanjutkan dengan pengamatan jauh kedepan dalam jangka waktu tertentu. Karena itu untuk menyelesaikan studi yang bersifat prospektif sering kali membutuhkan waktu yang cukup lama dan biaya yang mahal, sehingga studi semacam ini memang tidak banyak dilakukan.
Adapun studi cross sectional berupaya mempersingkat waktu observasinya dengan cara hanya mengobservasi beberapa tahap atau tingkat perkembangan tertentu, dengan harapan dari setiap tahap atau tingkatan itu akan dapat dibuat kesimpulan yang sama dengan longitudinal.

Keunikan Studi Kasus
Studi kasus sebagai sebuah penelitian mempunyai keunikan atau keunggulan dalam kancah penelitian social, yaitu mampu memberikan akses atau peluang yang luas kepada peneliti untuk menelaah secara mendalam, detail, intensif, dan menyeluruh terhadap unit social yang diteliti. Itulah kekuatan utama sebagai karakteristik dasar dari studi kasus. Secara lebih rinci, studi kasus mengisyaratkan keunggulan-keunggulan berikut:
1. Studi kasus dapat memberikan informasi penting mengenai hubungan antar variabel serta proses-proses yang memerlukan penjelasan dan pemahaman yang lebih luas.
2. Studi kasus memberikan kesempatan untuk memperoleh wawasan mengenai konsep-konsep dasar perilaku manusia. Melalui penyelidikan intensif, peneliti dapat menemukan karakteristik dan hubungan-hubungan yang (mungkin) tidak diharapkan atau tidak diduga sebelumnya.
3. Studi kasus dapat menyajikan data-data dan temuan-temuan yang sangat berguna sebagai dasar untuk membangun latar permasalahan bagi perencanaan penelitian yang lebih besar dan mendalam dalam rangka pengembangan ilmu-ilmu sosial.
Namun disamping kelebihan yang dimilikinya, studi kasus juga mempunyai kelemahan yang harus diantisipasi oleh seorang peneliti. Kelemahan itu diantaranya: pertama, kedalaman studi yang dilakukan tanpa banyak disadari ternyata justru mengorbankan tingkat keluasan yang seharusnya dilakukan, sehingga sulit digeneralisasikan pada keadaan yang berlaku umum. Kedua, ada kecenderungan studi kasus kurang mampu mengendalikan bias subjektifitas peneliti. Kasus yang dipilih untuk diteliti, misalnya cenderung lebih karena sifat dramatiknya, bukan karena sifat khas yang dimilikinya. Dengan demikian subjektifitas peneliti dikhawatirkan terlalu jauh mencampuri hasil penelitian.


[1] Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 201.

Posted 24 Juni 2010 by Yayan Z. in Ilmu Penelitian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: